
CIREBON, (SW)- Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon hingga minggu ke-15 tahun 2026, ada empat Kecamatan di Kabupaten Cirebon yakni Mundu, Sumber, Ciwaringin dan Greged berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak.
Rincian kasus di wilayah KLB yakni Kecamatan Mundu terdapat 29 kasus suspect dengan 2 kasus positif, Kecamatan Sumber 24 suspect dengan 5 positif, Kecamatan Greged 33 suspect dengan 7 positif, serta Kecamatan Ciwaringin 33 suspect dengan 9 kasus positif.
Selain empat kecamatan tersebut, terdapat tujuh kecamatan lain yang juga melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) sebagai langkah pencegahan.
Kebijakan itu diambil karena tingginya mobilitas warga dari dan ke wilayah KLB serta capaian imunisasi MR dalam lima tahun terakhir rata-rata masih di bawah 80 persen, sehingga berisiko memicu peningkatan kasus campak.
Dinkes Kabupaten Cirebon terus melakukan langkah cepat untuk mengatasinya. Selain mencegah penyebaran penyakit campak, Dinkes melakukan vaksinasi massal di sejumlah wilayah sekitar. melalui imunisasi massal darurat (Outbreak Response Immunization/ORI) dan imunisasi tambahan (Catch Up Campaign/CUC) untuk mengendalikan wabah campak, menyusul status Kejadian Luar Biasa (KLB) di empat kecamatan.
ORI Campak merupakan kegiatan imunisasi tambahan massal darurat sebagai respons untuk menghentikan wabah atau KLB. Sementara, CUC merupakan imunisasi tambahan untuk melengkapi status imunisasi anak-anak yang belum mendapat dosis imunisasi campak lengkap.
Keseriusan Pemerintah Kabupaten Cirebon dibuktikan juga dengan melakukan monitoring pelaksanaan penanggulangan penyakit campak di sejumlah desa.
Bahkan, Bupati Cirebon, H Imron bersama Kepala Dinas Kesehatan, Hj. Eni Suhaeni turun langsung untuk melihat pelaksanaan immunisasi massal di Desa Mundu Pesisir, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jumat (8/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Bupati Cirebon menyampaikan keprihatinannya terhadap meningkatnya kasus campak yang menyebabkan kematian pada balita di Kabupaten Cirebon.
Menurut Bupati Cirebon, pentingnya imunisasi sebagai langkah utama mencegah penyebaran penyakit campak yang belakangan mengalami peningkatan signifikan.
“Penyakit campak merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” ujar Imron.
Ia menegaskan, penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi tidak hanya menyerang bayi, tetapi juga dapat mengancam seluruh kelompok usia.
Bahkan Penyakit seperti hepatitis B, tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, pneumonia, polio, campak, rubella, diare akut hingga kanker leher rahim dapat dicegah melalui vaksinasi.
Imron menyebut kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa imunisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan demi melindungi kesehatan masyarakat.
“Pemerintah Kabupaten Cirebon terus berupaya meningkatkan cakupan imunisasi dengan membuka layanan yang mudah diakses masyarakat, mulai dari posyandu, puskesmas, rumah sakit, tempat praktik dokter, bidan hingga klinik,” katanya.
Imron menekankan bahwa kehadirannya dalam kegiatan ORI bukan hanya bersifat seremonial, melainkan bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam menanggulangi penyebaran campak.
“Kegiatan ini merupakan bukti komitmen bersama seluruh sektor untuk berkolaborasi agar kasus campak tidak terus bertambah dan meluas,” ujarnya.
Imron juga mengajak seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga tokoh agama untuk bersama-sama mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya imunisasi.
Selain itu, Imron meminta peningkatan kualitas layanan serta infrastruktur kesehatan agar pelayanan imunisasi dapat menjangkau masyarakat hingga wilayah pelosok.
“Kepada para orang tua, saya mengimbau agar membawa anak-anaknya ke fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan imunisasi demi masa depan generasi yang lebih sehat dan tangguh,” katanya.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Hj l. Eni Suhaeni mengungkapkan masih ada sekitar 40 persen balita yang belum mendapatkan vaksin campak.
Menurut Eni, upaya percepatan vaksinasi dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah kecamatan, desa, kader kesehatan hingga tokoh masyarakat.
“Dinkes tidak bekerja sendiri. Semua harus terlibat, mulai dari kecamatan, desa, para kader hingga tokoh masyarakat. Kami optimistis target imunisasi bisa tercapai,” katanya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan ORI massal berlangsung pada 4 hingga 9 Mei 2026. Setelah itu, Dinas Kesehatan akan melakukan sweeping mulai pekan depan untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan vaksin, terutama yang saat pemeriksaan sebelumnya dalam kondisi sakit.
Lebih lanjut, kata Eni, sweeping tersebut difokuskan di tujuh kecamatan yang menjadi wilayah prioritas penanganan kasus campak.
“Insyaallah sekarang sudah fokus di tujuh kecamatan saja dan mudah-mudahan tidak terjadi lagi di tempat lain,” ujarnya.
Eni mengungkapkan bahwa kasus campak di Kabupaten Cirebon telah menyebabkan tiga kematian balita. Dari jumlah tersebut, dua kasus dinyatakan positif campak, sementara satu lainnya negatif.
Ia mengakui tantangan terbesar di lapangan adalah masih adanya orang tua yang menolak imunisasi bagi anaknya. Karena itu, pihaknya terus menggandeng berbagai elemen masyarakat untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya vaksinasi.
“Kami berharap masyarakat yang sebelumnya menolak vaksin bisa memahami pentingnya imunisasi demi kesehatan anak-anak,” katanya.
Selain itu, Eni juga mengajak media massa turut berperan aktif dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui pemberitaan yang konstruktif dan informatif..
Secara keseluruhan, target sasaran ORI di Kabupaten Cirebon mencapai 12.221 anak usia 9 hingga 59 bulan. Program tersebut mulai dilaksanakan sejak 4 Mei 2026.
ORI campak dijadwalkan berlangsung hingga 19 Mei 2026. Pemerintah daerah melibatkan berbagai unsur, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa untuk memastikan pelaksanaan berjalan optimal.
Dinkes berharap seluruh sasaran dalam kondisi sehat sehingga vaksinasi dapat dilakukan tanpa hambatan.
“Semoga pelaksanaannya lancar dan seluruh anak bisa tervaksin sesuai target,” tandasnya.
Sementara itu, Puskemas Ciwaringin juga bergerak cepat dengan menyiapkan vaksinasi massal bagi balita. Langkah ini dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit tersebut.
Kepala Puskesmas Ciwaringin, Didi Junaedi, mengatakan, pihaknya langsung menindaklanjuti penetapan KLB dengan menyiapkan program Outbreak Response Immunization (ORI).
“Dengan ditetapkannya KLB di salah satu desa, kita harus melakukan pencegahan melalui imunisasi massal serentak,” ujarnya.
Selain itu, puskesmas juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai saluran, termasuk media sosial dan tempat ibadah.
Berdasarkan data sementara, terdapat sembilan kasus suspek campak di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, tiga kasus terkonfirmasi positif, satu negatif, dan lima lainnya masih menunggu hasil pemeriksaan.
Upaya penanganan juga melibatkan pemerintah desa dan tokoh masyarakat. Sosialisasi dilakukan hingga ke masjid dan musala agar informasi cepat menjangkau warga.
“Sudah kami sampaikan melalui masjid dan musala agar masyarakat segera mengetahui dan ikut berpartisipasi,” ungkapnya.
Vaksinasi massal akan menyasar seluruh balita usia 9 hingga 59 bulan tanpa memandang status imunisasi sebelumnya.
Di Kecamatan Ciwaringin, jumlah sasaran mencapai sekitar 2.400 balita yang tersebar di 52 posyandu.
“Semua balita usia 9 sampai 59 bulan akan divajsinasi. Target kita minimal 95 persen agar terbentuk kekebalan kelompok,” tegasnya.
Didi menambahkan, KLB campak ini merupakan kasus pertama di wilayah tersebut pada tahun ini. Ia mengingatkan campak berpotensi fatal, terutama bagi balita dengan daya tahan tubuh lemah.
“Campak bisa menyebabkan kematian jika daya tahan tubuh tidak kuat. Karena itu imunisasi sangat penting,”ungkapnya.(via).





