
KUNINGAN, (SW)- OJK Cirebon menilai stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah Ciayumajakuning tetap stabil dengan intermediasi yang cukup baik pada Triwulan II 2026. Kinerja BPR masih dalam batas aman meski kredit, aset dan DPK turun. Kredit tercatat Rp1,79 triliun, aset Rp2,4 triliun, DPK Rp1,85 triliun.
Kualitas kredit justru membaik dengan NPL turun, dan permodalan sangat kuat CAR 22,53%. Penyaluran terbesar ke sektor Bukan Lapangan Usaha Lainnya dan Perdagangan Besar Eceran.
Berbeda dengan BPR, Bank Umum tumbuh positif. Kredit naik menjadi Rp49,72 triliun, aset Rp63,26 triliun dan DPK Rp43,52 triliun. Kredit konsumsi masih dominan, namun pertumbuhan tertinggi ada di kredit investasi. Bank Umum Syariah juga tumbuh, pembiayaan Rp8,15 triliun, aset Rp8,76 triliun, dengan NPF terjaga 3,04%.
Untuk IKNB, LKM mengalami penurunan, sedangkan LKMS tumbuh baik dengan aset Rp37,44 miliar dan pembiayaan Rp19,01 miliar. Pasar modal tumbuh pesat. Jumlah investor SID mencapai 686,36 ribu naik 108,94% yoy dan menyumbang 11,87% dari Jawa Barat. Transaksi saham mencapai Rp3,66 triliun naik 119,59%.
Dari sisi konsumen, hingga Agustus 2026 OJK Cirebon melayani 2.126 konsultasi dan pengaduan. Mayoritas walk-in langsung. Aduan terbanyak soal fintech lending dan Bank Umum. Isu dominan terkait SLIK dan penipuan keuangan. Layanan SLIK yang diproses 9.743 permintaan. Pengadu dominan pegawai swasta dan wirausaha dari wilayah Kabupaten dan Kota Cirebon.
Hingga September 2026, OJK telah melaksanakan 174 kegiatan edukasi dengan 22.331 peserta di seluruh Ciayumajakuning, termasuk program Hari Indonesia Menabung di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Cirebon.
OJK juga terus mendorong 5 Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) yaitu Situ Cipanten Majalengka, Kampung Nelayan Merah Putih Cirebon, Desa Jagara Kuningan, Desa Karangsong Indramayu, dan Wisata Kuliner Jl. Moh Toha Kota Cirebon, dengan fokus pengembangan wisata Waduk Darma di Jagara.(rls).





