
Oleh : Jeanette Josephine Gunawan
BEKASI, JAWA BARAT (SW) – Olahraga Padel kini tengah menjadi tren baru yang digemari berbagai kalangan di Indonesia. Di balik popularitasnya yang melonjak, tersimpan cerita unik mengenai asal-usul olahraga yang lahir dari keterbatasan lahan di Meksiko.
Pelatih Padel, Opan Lopez menjelaskan bahwa olahraga ini pertama kali muncul pada era 1960-an. Saat itu, seorang pemilik rumah ingin membangun lapangan tenis, namun terkendala oleh luas tanah yang tidak memadai.
“Sebenarnya awal mulanya itu ada di Meksiko tahun 60-an. Di rumahnya mau dibuatkan lapangan tenis tadinya, tapi luas rumah dia tidak cukup, karena keterbatasan ruang tersebut, sang pemilik rumah akhirnya merancang lapangan yang lebih kecil dan menutupinya dengan krangkeng (dinding atau pagar) agar bola tidak keluar jauh” ujar Opan Lopez.
Selain masalah lahan, faktor “malas” untuk mengambil bola yang keluar juga menjadi alasan di balik desain lapangan padel yang tertutup. Inovasi inilah yang kemudian menyebar ke Eropa dan kini merambah hingga ke kota-kota besar di Indonesia.
Kemudahan cara bermain dan konsep permainan yang inklusif bagi semua usia menjadi magnet utama olahraga ini. Tak jarang, banyak pemain baru yang datang karena sekadar penasaran atau mengikuti tren di media social.
Hal ini diakui oleh Ayudhya, salah satu pemain di Galaxy Padel Club. Ia mengaku awalnya mencoba padel karena pengaruh lingkungan dan tren yang sedang viral.
“Awal mulanya sih sebenarnya enggak tertarik ya, cuma karena biasa lah, FOMO kan. Ternyata seru juga, kebetulan aku memang suka olahraga yang agak mikir” ujar Ayudhya.
Popularitas Padel diprediksi akan terus meningkat. Hal ini terlihat dari antusiasme masyarakat yang mendatangi pusat-pusat latihan.
Bertambahnya fasilitas lapangan baru dan terbentuknya komunitas-komunitas pemain lokal menjadi sinyal kuat bahwa padel bukan sekadar tren sesaat. Olahraga yang memadukan elemen tenis dan squash ini kini telah bergeser menjadi pilihan gaya hidup sehat bagi warga perkotaan.(*).





