
Mendengar Suara Petani
Oleh: Entang Sastraatmadja
Yang dimaksud dengan “suara petani” dalam tulisan ini adalah aspirasi, keluhan, atau pendapat petani yang disampaikan ke pemerintah, masyarakat, atau publik. Intinya, petani ikut bicara, bukan cuma jadi objek kebijakan. Petani perlu terlibat secara proaktif dan tampil menjadi penggagas kebijakan pembangunan pertanian dan pembangunan petani.
Suara petani, biasanya terdiri dari tiga hal ysng utama yakni kebutuhan lapangan, misal harga pupuk mahal, irigasi rusak, bibit susah didapat. Lalu, penilaian kebijakan seperti subsidi tepat sasaran tidak, harga gabah HPP masuk akal tidak. Dan juga terkait gagasan solusi. Contohnya cara tanam yang lebih hemat, sistem koperasi, akses pasar langsung
Makanya wajar dan menjadi sangat masuk akal, jika sekarang banyak bermunculan yang namanya “forum suara petani”, “data suara petani” buat memastikan kebijakan pertanian benar-benar nyambung sama kondisi di sawah, bukan cuma di atas kertas atau hanya sekedar wacana para pejabat publik semata.
Dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, “suara petani”, sangatlah strategis dan penting, karena petani itu pondasi hidup kita sehari-hari. Petani inilah yang memberi nakan warga bangsa. Kalau suara mereka tidak didengar, atau bersikzp masa bodoh, maka yang rugi ya kita semua.
Kaitannya dengan berbangsa, hal ini erat hubungannya dengan soal ketahanan pangan. Petani = yang mengisi piring kita tiap hari. Beras, sayur, cabai, jagung semua dari mereka. Kalau kebijakan tidak sesuai realita sawah, hasilnya: gagal panen, harga pangan naik, impor jebol. Negara kuat kalau perut rakyatnya aman. Suara petani memastilan kebijakan pangan tidak mengawang-awzng.
Selanjutnya bernegara. Hal ini terkait dengan soal keadilan dan kebijakan.
Negara bikin UU, subsidi, HPP gabah. Tapi yang merasakan langsung ya petani. Tanpa suara mereka, subsidi bisa nyasar ke tengkulak, HPP ketinggian/kerendahan, bantuan alat tidak kepakai. Suara petani bikin negara tidak salah sasaran. Itu namanya demokrasi jalan: rakyat bawah ikut nentuin arah.
Kemudian, bermasyarakat, utamanya soal kesejahteraan danbudaya. Di desa, petani = tulang punggung ekonomi dan penjaga tradisi. Kalau mereka sejahtera, desa hidup ditandai dengan warung rame, sekolah jalan, gotong royong jalan. Suara mereka juga menjaga kearifan lokal seperti cara tanam organik, kalender tanam, irigasi subak. Masyarakat jadi tidak cuma konsumtif, tapi mengerti asal makanan.
Catatan kritisnya, tidak ada petani sama saja dengan tidak ada nasi. Tidak ada suara petani bisa disebut sebagai kebijakan buta. Itu sebabnya, suara petani menjadi hal yang sabgat penting dalam merumuskan kebijakan dan program terkait dengan pembangunan pertanian dan prmbangunan petaninya.
Aspirasi utama petani di Indonesia, pada dasarnya kembali intinya ke satu hal yakni hidup sejahtera dari bertani. Tapi kalau dipecah, ada beberapa poin yang paling sering muncul dalam kehidupan nyata di lapangan. Pertama,
harga jual yang adil dan rantai distribusi pendek. Petani paling kesel kalau harga di pasar/konsumen naik tinggi, tapi yang mereka terima tetap murah. Panjangnya rantai tengkulak → pengumpul → distributor bikin margin petani kepotong banyak. Aspirasi: bisa jual langsung ke konsumen/pasar tanpa perantara terlalu banyak.
Kedua, kepastian lahan dan legalitas Banyak petani masih ribut soal kepemilikan tanah/hak tenurial yang tidak jelas. Aspirasi: sertifikat lahan jelas, tidak digusur, jadi tenang buat investasi jangka panjang. Ketiga, akses modal, pupuk, bibit, dan irigasi. Modal usaha tani susah dijangkau bank, pupuk kadang langka/mahal, irigasi sering kurang. Aspirasi: kredit bunga ringan, subsidi pupuk/bibit tepat sasaran, air lancar sepanjang tahun.
Keempat, teknologi dan ilmu pertanian yang gampang diakses Banyak petani pengen hasil naik tapi minim pelatihan dan teknologi modern. Aspirasi perlu ada penyuluhan, benih unggul, alat modern, dan info hama/iklim yang update. Kelima, regenerasi dan martabat profesi. Anak muda malas nerusin jadi petani karena capek, hasil tidak pasti. Jadi aspirasi diam-diam: pertanian jadi profesi keren, layak, dan tidak dipandang sebelah mata. Bertani = panggilan hati, bukan pilihan terakhir.
Dalam bahasa lain, petani ingin kerja kerasnya dihargai, hasil panen laku mahal, lahan aman, dan anak cucunya mau berkiprah sebagai petani. Lalu, bagaimana dengan peran Pemerintah dalam memberi jawaban cerdas, atas keinginan dan kebutuhan petan8 dalam mengarungi kehidupannya ?
Dari sekian aspirasi diatas, berikut ini akan disampaikan hal-hal yang segera harus digarap Pemerintah, bila negara betul-betul ingin hadir dalam kehidupan petani di Tanah Merdeka ini. Berbagai upaya yang sepatutnya ditempuh para penganbil kebijakan antara lain adalah :
1. Bereskan harga dan rantai distribusi. Mulai dengan stabilisasi harga. Ada HPP (Harga Pembelian Pemerintah) buat gabah/beras, biar petani tidak rugi pas panen raya. Lalu, potong rantai dengan mendorong pembentukan Koperasi/Kelompok Tani dan BUMDes biar petani bisa jual langsung. Program “Toko Tani Indonesia” e-commerce tani juga buat motong tengkulak. Kemudian, benahi infrastruktur. Bangun jalan, gudang, cold storage biar distribusi nggak mahal
2. Jamin kepastian lahan melalui sertifikasi. Program PTSL/Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap buat bikin sertifikat tanah petani gratis/terjangkau. Selanjutnya reforma agraria dengan redistribusi tanah dan penguatan regulasi hak tanah biar konflik lahan berkurang
3. Buka akses modal, pupuk, bibit, air.
Perlu penguatan modal KUR (Kredit Usaha Rakyat) bunga 6% buat petani. Ada juga LKM & koperasi tani. Perkokoh sarana produksi seperti subsidi pupuk, benih unggul, alsintan. Pemerintah juga genjot irigasi biar tidak tergantung hujan. Juga asuransi seperti AUTP (Asuransi Usaha Tani Padi). Kalau gagal panen kena banjir/hama, petani dapat ganti rugi.
4. Tingkatkan skill dan teknologi melalui Pelatihan/Penyuluhan lewat PPL, sekolah lapang, pelatihan pertanian modern dan organik. Kemudian, melakukan riset dengan mendorong kolaborasi petani dan peneliti buat varietas tahan hama/iklim.
Kembangkan digitalisasi dengan Aplikasi e-RDKK, iGrow, dll buat petani memesan pupuk dan cek harga pasar.
5. Bikin pertanian menarik buat anak muda. Program “Petani Milenial”, magang ke luar negeri, inkubasi startup agri-tech perlu terus dilakukan. Tujuannya biar pertanian tidak ditinggalkan oleh anak muda.
Tapi PR-nya masih banyak. Subsidi pupuk sering tidak tepat sasaran, KUR ribet, irigasi rusak, harga HPP kadang di bawah harga pasar. Jadi peran pemerintah itu ibarat “wasit dan sponsor”, bikin aturan main adil, kasih modal, kasih ilmu, dan jaga lapangan tetap rata.
Semoga jadi bahan permenungan bersama. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).





