Plastik-plastik yang dulu dianggap sampah kini berubah wujud menjadi plakat.foto:nur via pahlawanita/suara warga.id
INDRAMAYU, (SW)- Melihat lingkungan kotor dan sampah berserakan dimana-mana. Membuat keresahan hati Matori seorang Bapak empat anak. Dikatakan Matori, sampah plastik (an organik) masih menjadi tantangan besar.
Karena sulit terurai, plastik mencemari tanah dan air, bahkan mengancam kesehatan saat dibakar. Untuk itu, Matori sejak tahun 2016 mendirikan Bank Sampah. Pendirian Bank Sampah di Desa/Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat merupakan inisiatif agar tumbuh kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sekitar.

Inisiatif ini sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat sekitar untuk lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan. “Sampah selalu menjadi permasalahan utama yang belum tuntas dalam penangananya. Masalah sampah menjadi fenomena universal yang masih dinilai belum maksimal, dan teratur dalam mengelola sampah,”ujar Matori selaku ketua Bank Sampah Balongan- Indramayu, saat ditemui Suara Warga, Minggu (04/10/2025).
Tak kenal lelah, setiap hari Matori dan tim bank sampah keliling mengangkut dan memungut sampah rumah tangga milik warga. Meski usianya sudah senja namun semangat Matori tak pernah padam. Berawal dari keresahan dan keprihatinnya, ia menyalakan asa dan harapan dari sampah plastik mulai dari botol bekas, tutup botol, gallon dan lainnya. Sampah plastik ini ia cuci bersih untuk dijual kepengepul.
Matori pun membuka halte sampah dibagi dengan jenis sampah yakni organik, anorganik dan sampah residu.

Merasa ambisi dan semangatnya besar untuk mempelajari tentang lingkungan, akhirnya Matori mencoba belajar dari youtube bagaimana mengelola sampah menjadi nilai ekonomis.
Diakui Matori, dengan alat seadanya, ia mulai mencoba bereksperimen untuk melebur tutup botol dengan menggunakan kompor. “Saat itu alatnya masih manual, pakai kompor. Kadang hasilnya gagal, kadang gosong, tapi saya penasaran,”ungkap Matori pria kelahiran 1975 ini.
Dari rasa penasarannya itu, lahir ide untuk mengelola sampah lebih serius. Matori ingin agar kampung halamannya nampak bersih.

Matori akhirnya menemukan bahan bakarnya ketika PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU VI Balongan datang ke desanya. Perusahaan energi itu tengah mencari kelompok warga yang bisa dilibatkan dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang lingkungan, khususnya pengelolaan bank sampah. Pertemuan itu seperti titik temu antara semangat warga dan komitmen perusahaan.
Ia bersama lima rekannya mendirikan Kelompok Wiralodra (Wilayah Masyarakat Pengelola Dapur Ulang Sampah), yang kemudian menjadi mitra binaan resmi PT KPI RU VI Balongan. Sebelum itu, nama bank sampahnya diambil dari “Widara”, jenis pohon yang banyak tumbuh di Balongan, sebagai simbol keteduhan dan daya hidup.

Matori merasa bersyukur, ada perusahaan yang sangat peduli dengan lingkungan. Selain dibekali berbagai macam pelatihan daur ulang sampah, Bank Sampah Wiralodra pun difasilitasi alat mesin pencacah atau penghancur juga mesin press.

Dari daur ulang itulah ia membuat aneka kerajinan seperti storage (tempat penyimpanan), gelang, tasbih, plakat (cindera mata), bingkai foto, paving blok, kursi dan meja plastik.

Tak hanya itu, Bank Sampah Wiralodra juga menerima barter sampah plastik dengan telur ayam. Disebutkan Matori, untuk sampah plastik dengan berat 1 kg maka akan mendapatkan 1 butir telur, sedangkan untuk sampah minyak goreng bekas dengan berat 1.5 liter maka bisa ditukar dengan 2 butir telur. “Iya kita terima minyak jelantah (minyak goreng bekas,red), karena minyak jelantah bisa untuk bahan bakar produksi,”jelas Matori.

Anggota Wiralodra kini bisa memperoleh penghasilan tambahan rata-rata Rp 1 juta per bulan. Bahkan Matori pun pernah mendapatkan pesanan pembuatan plakat dari konsumen Bali dan Negara China. “Ya lumayan, kalua ada pesanan bisa lebih dari itu,”katanya.
Oleh sebab itu, Matori pun dituntut kreatif. Selama sembilan tahun menggeluti sampah plastik, Matori telah berhasil membuat bermacam benda daur ulang. Matori pun berharap agar produk hasil karyanya bisa tembus ke berbagai manca negara. “Dari China pernah pesan plakat itupun difasilitasi oleh Kementrian Kelautan. Berharap produk saya ini bisa terus dikenal ke luar negara lain juga,”harapnya.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT KPI RU VI Balongan, Mohamad Zulkifli menyampaikan, program tersebut menjadi bentuk nyata komitmen perusahaan untuk memberdayakan masyarakat di sekitar kilang.
“Kami melihat semangat Pak Matori sungguh luar biasa. Ia bukan hanya mengelola sampah, tapi menyalakan kesadaran dan peluang untuk menjadikan produk bank sampah ini menjadi nilai jual tinggi,”tuturnya.
Plastik-plastik yang dulu dianggap sampah yang kini berubah wujud menjadi plakat warna-warni hasil daur ulang dari bahan HDPE (High Density Polyethylene) dan PET (Polyethylene Terephthalate) memiliki nilai jual tinggi.

“Kelompok Wiralodra mampu menangani sekitar 1,6 ton sampah non-B3 setiap bulan,”kata Zulkifli.
Kelompok Bank Sampah Wiralodra telah mengolah sekitar 60 kilogram sampah per minggu, baik organik maupun anorganik. Mereka bahkan mulai bereksperimen dengan budidaya maggot untuk mengolah sampah organik menjadi pakan ternak.


Salah satu warga, Suhendrik mengaku rutin menukar hasil sampah rumah tangganya dengan telur ayam.

“Dengan barter telur, lingkungan dan rumah juga ikutan bersih,”kata Suhendrik.(Nur Via Pahlawanita).





